Pakan ayam pengganti dedak bisa berasal dari pakan hewani maupun hayati. Pakan hewani untuk menggantikan peran dedak antara lain magot, larva lalat, dan jangkrik. Sedangkan pakan dari tumbuhan bisa dari jenis serelia, jenis bungkil dan lain sebagainya.
Sebelum itu bagaimana peran dedak sebagai bahan pakan untuk hewan ternak terlebih hewan ternak jenis unggas yaitu ayam?
Dedak sebagai Pakan Ternak

Dedak merupakan hasil samping dari pabrik penggilingan padi pada proses produksi beras. Penggunaan dedak padi untuk bahan pakan ternak karena dedak memiliki kandungan gizi yang tinggi, dengan harga terjangkau dan mudah diperoleh serta penggunaannya tidak bersaing dengan manusia.
Pada proses penggilingan padi, dapat menghasilkan beras giling mencapai 65% dengan limbah yang dihasilkan sebesar 35% yang terdiri atas sekam, dedak dan bekatul. Dedak memiliki kandungan protein sekitar 12%, lemak 9% ,serat kasar 13% dan abu sekitar 12%.
Untuk ternak ruminansia sendiri dedak dijadikan sebagai konsentrat karena pemberian pakan hijauan belum bisa mencukupi kebutuhan nutrisi untuk mencapai produksi yang optimal.
Alasan dedak padi menjadi konsentrat terbaik, serta mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi, yaitu protein kasar (PK) sebesar 13,80% dan bahan ekstrak berupa nitrogen. Selain itu mudah dicari dengan harga terjangkau.
Namun dedak memiliki kelemahan yaitu bisa menurunkan pertambahan berat badan dan berat badan akhir broiler. Hal ini karena tingginya kandungan lemak dan asam fitat dalam padi menyebabkan fosfor yang terkandung tak dapat terserap oleh ternak unggas.
Hal inilah yang menyebabkan jenis pakan ternak yang satu ini tidak bisa digunakan secara berlebihan. Umumnya penggunaannya lebih dari 20% akan menghambat pertumbuhan karena adanya kandungan asam fitat dalam bentuk kompleks dengan protein, pektin, dan polisakarida.
Dengan kelebihan dan kelemahan yang ada, tidak ada salahnya kita mulai mencari pakan ayam pengganti dedak. Berikut pakan terbaik yang bisa dijadikan pakan pengganti dedak.
Pakan Ayam Pengganti Dedak
1. Eceng Gondok
Eceng gondok yang selama ini menjadi permasalahan di daerah waduk dan rawa-rawa ternyata bisa dimanfaatkan menjadi bahan pakan untuk hewan ternak bahkan bisa menggantikan peran dedak.
Ini karena eceng gondok yang sudah diolah sedemikian rupa menjadi tepung memiliki kadar proteinnya hampir sama dengan dedak halus yaitu 12%.
Dengan adanya pemanfaatan eceng gondok sebagai pakan alternatif ayam ini akan menjadi suatu upaya penanggulangan gulma eceng gondok.
2. Polard
Polard merupakan hasil sisa dari proses penggilingan gandum menjadi tepung terigu. Jenis pakan ini sudah cukup populer dikalangan peternak walau penggunaannya harus dibatasi.
Kandungan yang ada pada polard yaitu serat kasar dan energi metabolis dengan kualitas yang lebih baik daripada dedak. Dalam pemberiannya polard diberikan bersamaan dengan pakan butiran kaya protein karena protein pada polard tergolong rendah.
3. Ubi Cincang
Selain dikonsumsi oleh manusia, ternyata ubi juga bisa dijadikan pakan untuk hewan ternak. Ubi memiliki kandungan protein sebesar 29% dan kandungan serat yang tak kalah tinggi.
Namun dalam pemberiannya untuk pakan ternak harus lebih berhati-hati karena ubi mengandung asam prusid dan sianida yang beracun. Batasi pemberiannya dan olah menjadi potongan yang lebih kecil atau halus.
4. Sorgum
Sorgum memiliki kandungan protein dan xantofil yang lebih tinggi dibanding dengan jagung. Pemberian sorgum lebih baik dibatasi karena adanya kandungan tanin yang bisa menyulitkan penyerapan protein serta menurunkan pertumbuhan bahkan menyebabkan kelainan pada kaki ternak.
Untuk menurunkan kandungan tanin bisa dengan mengolah kembali sorgum dengan cara mengupas bagian luar, merendam atau melakukan fermentasi terlebih dahulu. Sebaiknya kombinasikan sorgum dengan pakan lain seperti bungkil kedelai untuk menghasilkan suplemen metionin dan lisin yang baik.
5. Bungkil Kedelai
Bungkil kedelai mengandung sekitar 51% protein dan asam amino yang cukup tinggi, namun dalam penggunaannya perlu pembatasan berupa 40%.
Hal yang perlu diperhatikan dalam memilih bungkil kedelai adalah nilai biologis yang kurang bagi ternak ruminansia. Ini karena sebagian besar protein kasar telah terfermentasi dalam rumen sehingga kandungan di dalamnya kurang bisa dimanfaatkan.
0 Comments